Alumni program studi Hubungan Internasional Universitas Bosowa (Unibos), Moriska Pasally menjadi delegasi di The Fifth Session of the Intergovernmental Negotiating Committee (INC). Kegiatan tersebut diadakan di Busan, Korea Selatan, Senin (25/11)-Minggu (1/12).
INC ke-5 ini turut dihadiri oleh Wakil Menteri Lingkungan Hidup, Diaz Hendropriyono yang memimpin delegasi Republik Indonesia.
Saat ini, Moriska merupakan staf di Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) yang terakreditasi di bawah UN Environment Programme (UNEP). Acara ini dihadiri oleh organisasi masyarakat sipil seluruh dunia yang bakal mengawal perjanjian plastik ini.
“Kita tahu bahwa Indonesia merupakan penyumbang plastik terbesar kedua di lautan dan itu tentu sangat berbahaya bagi kehidupan kita, juga keanekaragaman hayati,” tutur Moriska.
Ia mengungkap, akar masalah dari polusi plastik adalah produksi plastik. Maka dari itu Indonesia butuh perjanjian plastik yang kuat dan mengikat bagi negara-negara yang hadir di konferensi tersebut.
“Oleh karena itu, kami bersama organisasi masyarakat sipil lainnya menuntut agar negara-negara yang hadir segera mengurangi produksi plastik mereka,” pungkasnya.
Moriska menambahkan, negara-negara harus mempromosikan gaya hidup zero waste. Serta tidak mempromosikan solusi-solusi palsu seperti pembangkit listrik tenaga sampah yang juga saat ini banyak dipromosikan oleh pemerintah Indonesia.
“Oleh karena kami butuh bantuanmu untuk segera mendorong negara-negara yang hadir membuat perjanjian plastik yang kuat, mengikat dan ambisius,” tutup Moriska.