Rektor Universitas Bosowa (Unibos), Prof. Dr. Ir. Batara Surya, ST, MSI menghadiri Seminar Nasional Himpunan Mahasiswa Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik (HMTPWK FT-Unibos). Seminar ini mengangkat tema “Menuju Sulsel yang Tangguh Menghadapi Bencana”, berlangsung di Gedung Balai Sidang 45 Unibos, Kamis (5/12).
Dalam penjelasannya, Batara memaparkan beberapa daerah di Sulawesi Selatan, termasuk kota Makassar masih sering mengalami fenonema banjir. Hal ini dikarenakan daerah resapan air yang menurun drastis.
“Semua di beton, dan ternyata pengaturan zonasinya tidak mengatur penentuan elevasi. Saya ambil contoh di poros Hertasning-Samata, sebelah kanan elevasinya dua meter sedangkan sebelah kiri satu setengah meter. Pasti efeknya ke infrastruktur jalan,” ungkapnya.
Menariknya, Batara mengatakan periode banjir era tahun 90-an akan terjadi 10 tahunan. Namun di tahun 2000, elevansi banjir berubah menjadi 5 tahun.
“Namun sekarang, intensitas hujan 2-3 jam saja itu menyebabkan banjir sampai ke pusat kota,” ujarnya.
Batara menambahkan, kanal yang berada di perbatasan Gowa itu butuh konektifitas dengan kota Makassar. Jika dimaksimalkan, fungsi kanal itu bisa mengurangi banjir kiriman.
“Kota Makassar ini lebih tinggi lautnya dibanding daratan. Sehingga mungkin bisa belajar dari kota Den Haag Belanda dalam mengelola kanal yang berbasis pariwisata. Makassar punya sungai Tallo dan Jeneberang. Hanya saja tidak pernah konsisten mengatur sempadan sungainya,” pungkasnya.